Kamis, 24 Oktober 2013

Cintaku (bagian 3)


**Sambungan....

Ya Allah .... ada apa sebenarnya ini ?

Aku sungguh down dibuatnya. Tidakku sangka bahwa ini semua bukanlah sebuah ketulusan yang kuharapkan. Tapi jika dipikir-pikir lagi, ini pertanda Allah sayang padaku. Sebelum aku berhalal dengannya, Allah telah menunjukan siapa dia sebenarnya kepadaku. Alhamdulillah ya Allah .... Dibalik sakit yang kurasakan saat ini, ada sebuah kenikmatan yang berefek di masa depanku yang ku dapat. Memang, baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah.

Aku pun langsung menghubunginya melalui handphone.
Tuut .... tuut .... Tuut ....
Clik ....
“Assalamu’alaikum, ya Zhy .... Ada apa? Tumben nelpon di jam kerja.” Tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Wa’alaikumussalam. Ini, nanti malam kita bisa ketemu di tempat biasa?”, tanyaku yang juga seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Bisa, tapi ada apa?”, tanyanya lagi penasaran.

“Udah, nanti kamu juga tahu kok. Udah dulu ya, aku cuma mau bilang itu aja. Assalamu’alaikum”.

Huft .... Semoga nanti berjalan lancar, Aamiin ya Allah.

Waktu yang dinanti pun tiba. Aku telah lebih dulu sampai di tempat yang telah dijanjikan. Dia belum juga datang padahal sudah hampir 15 menit berlalu. Hm... Tak juga bisa diterima. Tak lama kemudian dia datang mengejutkanku dari arah belakang seolah ingin memberikan surprise dan menghiburku karena keterlambatannya, tapi sayang mood ku sedang tidak bagus. Jadi itu tidak mampu merubah kondisi hatiku saat itu.

“Kok telat sih?”, tanyaku.

“Ma’af, biasalah macet di jalan”, alasannya yang sangat biasa ku dengar.

“Hm ... baiklah, aku to the point aja ya. Sebenarnya, aku ngajak kamu ketemuan kayak gini karna ada aku mau bilang, sebaiknya hubungan kita kembali berteman seperti sebelumnya saja. Ada hal yang tidak bisa aku terima dalam hubungan ini. Mungkin karna aku tidak terbiasa memiliki hubungan khusus dengan lawan jenisku. Aku harap kamu bisa mengerti.” Jelasku panjang dan lebar.

Dia terkejut dan terdiam beberapa saat. Dia tidak menyangka aku akan mengatakan itu. Apalagi hubungan ini belum terjalin begitu lama. Khususnya, tujuannya yang sebenarnya belum terpenuhi.

“Loh kok tiba-tiba kayak gini? Salah aku apa?”, tanyanya seakan berusaha mencari jawaban yang pasti dan masuk akal.

“Kamu gak salah apa-apa. Aku saja yang tidak terbiasa dengan hubungan seperti ini.” Ujarku yang kurasa sudah cukup jelas.

“Aku tidak bisa terima alasan itu. Itu sama saja dengan kamu memutuskan hubungan ini hanya karna alasan yang tidak masuk akal. Aku masih bisa sabar kok nunggu kamu sampai terbiasa. Plis Zhy, jangan kayak gini donk”, mohonnya.

Haduh, ni orang ngotot banget ya. Keliatan kali niat jeleknya, ujarku dalam hati.

“Ma’af, aku rasa sudah cukup jelas. Aku tegaskan lagi, mulai detik ini juga hubungan kita hanyalah sebatas rekan kerja saja. Terima kasih atas perhatiannya selama ini. Aku pulang duluan ya. Assalamu’alaikum ....” ku tutup dengan salam sambil berjalan pualang. Ku tinggalkan dia sendiri dengan kondisi yang masih tidak percaya. Yah apa boleh buat. Aku tidak mau dimanfaatkannya, aku butuh sebuah ketulusan bukan kebohongan seperti ini.

Mungkin Allah sedang menyimpan jodohku, tanpa harus melalui percobaan “pacaran” seperti itu yang hanya akan menyakiti perassanku saja. Jika saatnya tiba nanti, pasti aku akan dipertemukan dengan jodohku. Jika aku ingin jodohku itu orang yang baik, maka aku dulu yang harus memperbaiki akhlakku ini. Karena Allah memberikan jodoh sesuai dengan bagaimananya kondisi kitanya.


**Tamat**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar