***sambungan . . . .
"Loh, kamu khan yang tadi?" aku pun terkejut. Ternyata lelaki yang ku jumpai di kantor ku tadi.
“Eh, iya. Ibuk yang tadi ketemu di kantor. Kalo gak salah ingat, Buk Zhakkida. Ma’af buk, saya tidak sengaja. Sekali lagi saya minta ma’af ya Buk”, jelasnya sopan
Hm, “ibuk” lagi katanya.
“Mas, gak usah panggil ibuk ya. Saya belum berkeluarga dan rasanya terlalu formal. Santai aja mas. Cukup panggil aja mbak juga gak apa-apa.” Jadilah walaupun dipanggil “mbak” daripada dipanggil “ibuk”. Tua kali kayaknya aku ini.
“Ah, ma’af ya buk eh mbak. Sekali lagi ma’af” ujarnya seakan sangat merasa bersalah.
“Gak apa-apa kok mas. Ya udah, saya lanjut dulu ya mas. Permisi”, jawabku mengakhirinya sebelum tambah banyak lagi kata ma’af yang dikeluarkannya.
“Ya mbak, permisi”, balasnya sambil juga melangkah pergi.
Sepertinya, setiap kali bertemu orang itu, bawaannya kesal terus. Coba aja dia gak panggil aku ibuk, mungkin gak akan kayak gini kejadiaanya. Ah sudahlah, toh dia hanya ingin berusaha bersikap sopan, daripada salah panggil dan malah seakan meremehkan. Aku pun salah, terlalu cepat menarik kesimpulan tentang sapaannya. Seandainya aku berpikir positif, gak akan kesal seperti ini juga kali.
Tanpa sadar, kaki ini telah menginjak teras rumahku. Wah, terkadang tubuh ini pintar. Walaupun otak tidak fokus, ternyata tetap mampu menuju rumah dengan sendirinya. Bahkan tubuh pun kalau sudah melakukan suatu kegiatan berkali-kali, telah terbiasa sehingga mampu melakukannya tanpa ada perintah dari otak. Sekali lagi, kembali kepada Sang Penciptanya. Subhanallah . . . .
Keesokan harinya . . . .
Pagi ini, rasanya meja kerjaku kok banyak berkas ya? Padahal dari rumah udah semangat kalo hari ini bakalan pulang cepat. Jarang-jarang tugas sedikit dan bisa pulang cepat serta merencanakan akan menghabiskan waktu di tempat yang sangat diinginkan. Ternyata rencana kita belum tentu akan terealisasi, karena masih ada rencana dan kehendak-Nya. Melihat setumpuk pekerjaan, mau tak mau itu sebagai pertanda bahwa aku akan lembur lagi, lagi dan lagi . . . .
Segera kunyalakan musik di laptopku sebagai teman mengerjakan berkas ini, pasang headset ke telinga agar tidak mengganggu teman kerja lainnya. “Klik” langsung terdengar lagu dari bintang korea, Ailee dengan Evening Sky-nya . . . Belakangan ini, lagu Korea lagi easy listening. Kalo sudah mengerjakan kerjaan sambil dengerin musik kayak gini, seakan dunia milik sendiri. Tiba-tiba ada yang mencopot headset dari telingaku. Rencana mau marah eh tapi gak jadi, rupanya Bos yang narik headset.
“Kamu ini Zhy, dipanggilin dari tadi gak nyahut-nyahut. Kirain ada apa rupanya pake headset” justru Bos ku yang jadi marahnya.
“Ma’af pak, ada apa ya Pak?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan sebelum merembet kemana-mana.
“Saya cuma mau kasih tau, berkas ini tolong segera selesaikan dan letakkan di meja saya hari ini juga. Ada klien yang minta hasil jadi dari contoh bahan dan kain yang kemaren mereka kasihkan. Mereka mau datang dan lihat hari ini. Jadi, kerjakan aja ini dulu. Saya tunggu paling lambat habis makan siang ya . . .Ingat, habis makan siang!!”, penjelasan Bos yang amat sangat jelas lengkap dengan ultimatumnya.
“Ba..Baik Pak”, jawabku kaget.
Aduuh, mana baru dikerjain lagi, masa’ mesti kumpul jam segitu sih? Ih, kadang Bos ini gak mikir kalo ngerjainnya itu butuh konsentrasi yang full. Ah, apa mau dikata. Bos sudah berkata, bawahan hanya kata “laksana”. Saatnya kamu bekerja keras ya jari-jari tanganku yang manis.
Setelah berjuang beberapa jam, akhirnya desain contoh bahan dan model kain yang diminta sudah diprint dari my laptop dan segera ku letakkan di meja Bos. Eh, ternyata klien udah datang. Ah, bukan urusanku, yang penting tugasku dah selesai. Mau makan siang dululah. Gara-gara kerjaan itu, aku jadi telat makan siang.
“Buk, tolong sotonya 1 ya . . .”,
Tiba-tiba ada yang menyenggol dengan sedikit kasar. Aku pun berbalik dengan maksud untuk memperingatkan orang tersebut tapi . . .
“Eh, ma’af buk. Sekali lagi ma’af. Loh, ini khan Buk Zhy? Wah kita jodoh ya buk. Belakangan sering ketemu hehehe. Baru makan siang ya buk? Sekali lagi ma’af. Setiap kali jumpa, kita selalu tabrakan gini.” Jelasnya lagi
Hm, anak ini lagi. Gak jadi dech mau memperingatinya. Males rasanya.
“Hehehe, sering-sering aja mas’, jawabku ketus. Akhirynya pesananku datang juga.
“Saya permisi dulu ya mas”, sapaku lagi
“Iya buk, silakan”, balasnya.
Lepas aku darinya, setiap jumpa kok nabrak dan bikin kesal. Ada ya orang kayak gitu?!. Ah, sudahlah, yang penting kini lunchtime, kesian perutku dipaksa nunggu. Soto kantin kantor memang tidak ada duanya. Alhamdulillah . . . .
“Buk Zhy, boleh saya duduk disini?”, sapanya yang tiba-tiba mengaggetkan ku dan membuatku tersedak.
“uhuk uhuk uhuk. Air . . . Air . . .”, aku mencari air minum yang ternyata aku lupa ambil tadi.
“Ini buk, aduh ma’af buk. Saya salah lagi . . . Ma’af ya buk, udah ngagetin. Aduh ini diminum dulu buk”, jawabnya panik.
“huff, ah gak apa-apa mas”, dalam hatiku, ya Allah ni orang apaan sih? Nyusahin terus. Jauh-jauh deh.
Akupun mau tak mau hanya bisa menunggu sampai soto yang kumakan habis baru bisa meninggalkannya. Karena aku tak mau menyiksa perutku lagi dengan hanya makan sedikit. Ternyata, selama makan tak membuat mulut orang itu diam. Justru makin semangat bercerita tentang apapun. Sedangkan aku, hanya menjadi pendengar yang baik. Duduk, makan, minum, diam dan jawab “iya” serta “tidak” sesekali. Namun dari situ aku tau beberapa hal yang menarik, ternyata bukan hidupku saja yang rasanya datar, banyak juga yang lainnya. Contohnya dia, tapi minimal dia punya impian yang ingin diwujudkan. Aku? Dia sibuk cerita sendiri, sedangkan aku mulai masuk dalam lamunanku, memikirkan diriku sendiri yang mulai berusaha membandingkan dengan dirinya seperti yang ia ceritakan. Ternyata aku masih miskin, miskin dalam arti kata “miskin sosialisasi”. Itu dikarenakan pekerjaanku yang menyita waktu dan hanya duduk di kantor saja sepanjang hari tanpa bisa punya waktu untuk menambah teman atau minimal menjaga silaturrahmi yang sudah terjalin.
Ah, aku jadi rindu teman-temanku, keluargaku . . . Rasanya sudah lama aku tidak lagi bertemu mereka. Setiap kumpul, selalu saja aku disibukkan dengan berbagai berkas yang menumpuk di meja ku yang seperti sudah tak sanggup lagi menahan beban berkas yang ada.
‘Buk? Duh, kok malah ngelamun. Ma’af, saya nyerocos terus ya. Ibuk jadi pasti keganggu. Saya kayak gini karena saya emang orangnya cerewet buk”, kata-katanya membuyarkan lamunanku.
“Ah ma’af juga mas, saya tidak menyimak cerita mas dengan baik. Ma’af sudah tidak sopan”, jawabku malu.
“Buk, boleh gak saya panggil mbak aja?”, tanyanya.
Hem dari dulu gitu kek, “iya mas, gak apa-apa. Toh saya belum terlalu tua untuk dipanggil ibuk”, jawabku sedikit lega karena tidak akan dipanggil ibuk lagi.
“Mbak sudah punya pendamping hidup, ma’af mbak saya lancang”, tanyanya lagi.
“Ah, belum kok mas. Boro-boro, pacar aja belum mas”, jawabku sedikit risih kembali.
“Boleh gak saya ngelamar jadi pendamping hidup Mbak?”, tanyanya yang kembali membuatku terdiam.
“Ah, jangan bercanda mas. Kita khan baru aja ketemu mas”, jawabku mengelak.
“ini serius Mbak. . . .”, ucapnya menekankan.
“Ma’af mas, saya harus kembali kerja”, elak ku sambil beranjak pergi meninggalkannya.
Gila aja tu orang, ngomong toh kok ya gak mikir sih. Baru kenal aja langsung kayak gitu. Paling nanti capek sendiri.
Ternyata perkiraanku salah, dia terus-terusan berusaha mendekatiku. Kok jadi kayak diteror gini?. Tapi lama kelamaan, siapa yang tahan kalo diberi perhatian ekstra terus menerus. Akhirnya luluh juga, menyerah juga aku dengan keteguhan dan kerja kerasnya. Aku dan dia pun berpacaran dulu untuk saling kenal. Terkadang bahasa yang sangat klise, pacaran dikatakn sebagai ajang untuk mengenal lebih dalam padahal belum tentu dia jodoh kita. Tapi ya sudahlah, jalani saja dulu. Kalo tidak ya putuskan. Kini aku pun dimabuk asamara.
Hingga suatu hari aku merasa ada yang aneh dengan hubungan kami. Aku mulai merasa kalo dia hanya ingin bermain-main denganku. Sampai aku memergokinya sedang berbicara dengan seseorang yang intinya, dia hanya memanfaatkanku untuk memperoleh kemudahan dengan perusahaan tempatku bekerja. Ya Allah . . . Apa ini?
Bersambung . . .