**Sambungan....
Ya
Allah .... ada apa sebenarnya ini ?
Aku
sungguh down dibuatnya. Tidakku sangka bahwa ini semua bukanlah sebuah
ketulusan yang kuharapkan. Tapi jika dipikir-pikir lagi, ini pertanda Allah
sayang padaku. Sebelum aku berhalal dengannya, Allah telah menunjukan siapa dia
sebenarnya kepadaku. Alhamdulillah ya Allah .... Dibalik sakit yang kurasakan
saat ini, ada sebuah kenikmatan yang berefek di masa depanku yang ku dapat. Memang,
baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah.
Aku
pun langsung menghubunginya melalui handphone.
Tuut
.... tuut .... Tuut ....
Clik
....
“Assalamu’alaikum,
ya Zhy .... Ada apa? Tumben nelpon di jam kerja.” Tanyanya seolah tidak terjadi
apa-apa.
“Wa’alaikumussalam.
Ini, nanti malam kita bisa ketemu di tempat biasa?”, tanyaku yang juga seolah-olah
tidak terjadi apa-apa.
“Bisa,
tapi ada apa?”, tanyanya lagi penasaran.
“Udah,
nanti kamu juga tahu kok. Udah dulu ya, aku cuma mau bilang itu aja. Assalamu’alaikum”.
Huft
.... Semoga nanti berjalan lancar, Aamiin ya Allah.
Waktu
yang dinanti pun tiba. Aku telah lebih dulu sampai di tempat yang telah
dijanjikan. Dia belum juga datang padahal sudah hampir 15 menit berlalu. Hm...
Tak juga bisa diterima. Tak lama kemudian dia datang mengejutkanku dari arah
belakang seolah ingin memberikan surprise dan menghiburku karena
keterlambatannya, tapi sayang mood ku sedang tidak bagus. Jadi itu tidak
mampu merubah kondisi hatiku saat itu.
“Kok
telat sih?”, tanyaku.
“Ma’af,
biasalah macet di jalan”, alasannya yang sangat biasa ku dengar.
“Hm
... baiklah, aku to the point aja ya. Sebenarnya, aku ngajak kamu
ketemuan kayak gini karna ada aku mau bilang, sebaiknya hubungan kita kembali
berteman seperti sebelumnya saja. Ada hal yang tidak bisa aku terima dalam
hubungan ini. Mungkin karna aku tidak terbiasa memiliki hubungan khusus dengan
lawan jenisku. Aku harap kamu bisa mengerti.” Jelasku panjang dan lebar.
Dia
terkejut dan terdiam beberapa saat. Dia tidak menyangka aku akan mengatakan
itu. Apalagi hubungan ini belum terjalin begitu lama. Khususnya, tujuannya yang
sebenarnya belum terpenuhi.
“Loh
kok tiba-tiba kayak gini? Salah aku apa?”, tanyanya seakan berusaha mencari
jawaban yang pasti dan masuk akal.
“Kamu
gak salah apa-apa. Aku saja yang tidak terbiasa dengan hubungan seperti ini.” Ujarku
yang kurasa sudah cukup jelas.
“Aku
tidak bisa terima alasan itu. Itu sama saja dengan kamu memutuskan hubungan ini
hanya karna alasan yang tidak masuk akal. Aku masih bisa sabar kok nunggu kamu
sampai terbiasa. Plis Zhy, jangan kayak gini donk”, mohonnya.
Haduh,
ni orang ngotot banget ya. Keliatan kali niat jeleknya, ujarku dalam hati.
“Ma’af,
aku rasa sudah cukup jelas. Aku tegaskan lagi, mulai detik ini juga hubungan
kita hanyalah sebatas rekan kerja saja. Terima kasih atas perhatiannya selama
ini. Aku pulang duluan ya. Assalamu’alaikum ....” ku tutup dengan salam sambil
berjalan pualang. Ku tinggalkan dia sendiri dengan kondisi yang masih tidak
percaya. Yah apa boleh buat. Aku tidak mau dimanfaatkannya, aku butuh sebuah
ketulusan bukan kebohongan seperti ini.
Mungkin
Allah sedang menyimpan jodohku, tanpa harus melalui percobaan “pacaran” seperti
itu yang hanya akan menyakiti perassanku saja. Jika saatnya tiba nanti, pasti
aku akan dipertemukan dengan jodohku. Jika aku ingin jodohku itu orang yang
baik, maka aku dulu yang harus memperbaiki akhlakku ini. Karena Allah
memberikan jodoh sesuai dengan bagaimananya kondisi kitanya.
**Tamat**