Goyangan angin menari menggelitik telingaku
Salam malam dingin yang mesra
Berusaha merayuku dengan hembusannya yang lembut membujuk
Tapi hanya pinggir bibirku yang membalasnya
Padahal remang t’lah beranjak dari bayanganku
Semua karna fajar yang diam dan perlahan memuncak ini
Kasih mengadu di bantal kamarnya
Aku ? Aku hanya mampu tersenyum tipis seperti biasa
Sinar matahari pagi mencuri-curi untuk menerobos masuk ke kamarku, berusaha membangunkanku dari mimpi yang sering tak dapat ku ingat lagi ketika sadar. Mulai terdengar kesibukan lalu lalang mesin-mesin buatan manusia yang dijadikan alat transportasi kemana mereka pergi. Yah . . . Rumahku tepat berada di pinggir jalan yang ramai dilalui oleh manusia karena berada di pusat kota, walaupun hanya sebuah kota kecil. Jadi, semua kesibukan pagi di sekitar rumahku dapat terdengar jelas di telingaku dan tak juga sukses membangunkanku di pagi-pagi yang sebenarnya sangat indah ini.
Pagi ini seperti biasanya, hanya alarm handphone-ku yang selalu berhasil membangunkanku walau harus berbunyi berkali-kali.
“Ya ampuuun, udah jam segini lagi. Ah! Bakalan telat lagi ni. Aduuuuh!”, aku hanya bisa menggerutu sendiri ketika menyadari bahwa aku terlambat bangun lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku pun segera menarik handuk yang tergantung di gantungan kamarku. Bergegas menuju kamar mandi, berusaha mandi secepat mungkin namun ketika kembali ke kamar, ku lirik jam dan tetap membutuhkan waktu selama 15 menit untuk hanya mandi saja.
“Ah . . . Lelet amat sih aku ini!”, pagi ini ku awali dengan menggerutui diri sendiri lagi dan lagi. Sungguh pagi yang menyedihkan hehehehe
Karena aku adalah seorang wanita, maka aku butuh untuk berdandan sebelum keluar rumah apalagi berangkat kerja. Waktu yang kubutuhkan untuk berdandan yaitu sekitar 15 menit juga. Jadi total waktu dari mandi dan berdandan yaitu 30 menit. Hm . . . Sifatku yang lelet ini selalu membuatku tidak sempat sarapan karena sudah amat sangat telat. Terpaksa sarapannya hanya di tempatku kerja, itu pun kalau aku ingat. Belum lagi jarak tempat kerjaku dari rumah yaitu 10 menit jika ku tempuh dengan berjalan kaki. Mau menggunakan kendaraan, aku tidak punya. Ya mau tak mau menggunakan karunia Allah yaitu kaki ini untuk menuju tempat kerja. Namun ada sisi positifnya, aku bisa bersilaturrahmi minimal menyapa orang-orang yang ku temui selama perjalanan ke tempat ku bekerja. Alhamdulillah . . . .
Sesampainya di tempat kerja, aku menebar senyuman seolah tak terjadi apa-apa. Padahal jelas-jelas aku terlambat. Bergegas menata meja kerja dan meletakkan peralatan-peralatan kerja agar lebih mudah dijangkau saat dibutuhkan.
“It’s time to work. So, Let’s to hardwork”, dengan penuh semangat aku menghidupkan laptop kesayanganku yang tahan banting walau terus dihidupkan tanpa ada waktu istirahat, Itu dikarenakan kegilaanku pada pekerjaan terutama ketika mendesak. Ku ‘klik’ gambar srigala kuning yang mengitari dunia berwarna biru yaitu ‘Mozzila’ dan searching dan loading maka terbukalah halaman yang ku cari yaitu sebuah jejaring sosial yang sedang tren di masa kini. Segera ku masukkan ID ku dan ternyata aku bukannya kerja tapi malah chatting-an. Sungguh memalukan hehehehe
“Ternyata belum ada kabar terbaru.”, sedikit kecewa dan akhirnya membuka Microsoft Word untuk melakukan pekerjaan yang sebenar-benarnya pekerjaanku.
Tanpa terasa sudah hampir tengah hari dan aku belum beranjak dari kursi kesayanganku yang sudah mulai agak sedikit miring. Maklum saja, penghuninya bukanlah orang yang ‘anteng’ alias tenang ketika bekerja.
“Zhy . . . bos ada gak?”, tanya seorang teman kerjaku kepadaku. Yap, namaku adalah Zhakkida dan panggilan sehari-hari cukup Zhy. Orang-orang memanggil namaku dengan amat sangat singkat sehingga bagiku jadi terlalu singkat untuk sebuah nama panggilan karena hanya menggunakan huruf awalku saja, namun dibaca dalam bahasa Inggris yang awalnya adalah ‘Zet’ menjadi ‘Zhy’. Pasrah ajalah, masih nyangkut-nyangkut juga toh.
“Sepertinya tidak ada tuh, napa emangnya Mbak?”, jawabku balik tanya.
“Mau minta tanda tangan surat ni. Emangnya kemana si Bos?”, tanyanya lagi.
“Kurang tau juga ya Mbak. Tadi Zhy datang agak telat dan Bos udah ga’ ada di tempat. Coba tanya sama kawan lain Mbak”, jelasku.
“Oke deh, thank’s ya Zhy”, jawabnya
“Yup, Mbak”, balasku. Percakapan standar yang ala kadarnya.
Salam malam dingin yang mesra
Berusaha merayuku dengan hembusannya yang lembut membujuk
Tapi hanya pinggir bibirku yang membalasnya
Padahal remang t’lah beranjak dari bayanganku
Semua karna fajar yang diam dan perlahan memuncak ini
Kasih mengadu di bantal kamarnya
Aku ? Aku hanya mampu tersenyum tipis seperti biasa
Sinar matahari pagi mencuri-curi untuk menerobos masuk ke kamarku, berusaha membangunkanku dari mimpi yang sering tak dapat ku ingat lagi ketika sadar. Mulai terdengar kesibukan lalu lalang mesin-mesin buatan manusia yang dijadikan alat transportasi kemana mereka pergi. Yah . . . Rumahku tepat berada di pinggir jalan yang ramai dilalui oleh manusia karena berada di pusat kota, walaupun hanya sebuah kota kecil. Jadi, semua kesibukan pagi di sekitar rumahku dapat terdengar jelas di telingaku dan tak juga sukses membangunkanku di pagi-pagi yang sebenarnya sangat indah ini.
Pagi ini seperti biasanya, hanya alarm handphone-ku yang selalu berhasil membangunkanku walau harus berbunyi berkali-kali.
“Ya ampuuun, udah jam segini lagi. Ah! Bakalan telat lagi ni. Aduuuuh!”, aku hanya bisa menggerutu sendiri ketika menyadari bahwa aku terlambat bangun lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku pun segera menarik handuk yang tergantung di gantungan kamarku. Bergegas menuju kamar mandi, berusaha mandi secepat mungkin namun ketika kembali ke kamar, ku lirik jam dan tetap membutuhkan waktu selama 15 menit untuk hanya mandi saja.
“Ah . . . Lelet amat sih aku ini!”, pagi ini ku awali dengan menggerutui diri sendiri lagi dan lagi. Sungguh pagi yang menyedihkan hehehehe
Karena aku adalah seorang wanita, maka aku butuh untuk berdandan sebelum keluar rumah apalagi berangkat kerja. Waktu yang kubutuhkan untuk berdandan yaitu sekitar 15 menit juga. Jadi total waktu dari mandi dan berdandan yaitu 30 menit. Hm . . . Sifatku yang lelet ini selalu membuatku tidak sempat sarapan karena sudah amat sangat telat. Terpaksa sarapannya hanya di tempatku kerja, itu pun kalau aku ingat. Belum lagi jarak tempat kerjaku dari rumah yaitu 10 menit jika ku tempuh dengan berjalan kaki. Mau menggunakan kendaraan, aku tidak punya. Ya mau tak mau menggunakan karunia Allah yaitu kaki ini untuk menuju tempat kerja. Namun ada sisi positifnya, aku bisa bersilaturrahmi minimal menyapa orang-orang yang ku temui selama perjalanan ke tempat ku bekerja. Alhamdulillah . . . .
Sesampainya di tempat kerja, aku menebar senyuman seolah tak terjadi apa-apa. Padahal jelas-jelas aku terlambat. Bergegas menata meja kerja dan meletakkan peralatan-peralatan kerja agar lebih mudah dijangkau saat dibutuhkan.
“It’s time to work. So, Let’s to hardwork”, dengan penuh semangat aku menghidupkan laptop kesayanganku yang tahan banting walau terus dihidupkan tanpa ada waktu istirahat, Itu dikarenakan kegilaanku pada pekerjaan terutama ketika mendesak. Ku ‘klik’ gambar srigala kuning yang mengitari dunia berwarna biru yaitu ‘Mozzila’ dan searching dan loading maka terbukalah halaman yang ku cari yaitu sebuah jejaring sosial yang sedang tren di masa kini. Segera ku masukkan ID ku dan ternyata aku bukannya kerja tapi malah chatting-an. Sungguh memalukan hehehehe
“Ternyata belum ada kabar terbaru.”, sedikit kecewa dan akhirnya membuka Microsoft Word untuk melakukan pekerjaan yang sebenar-benarnya pekerjaanku.
Tanpa terasa sudah hampir tengah hari dan aku belum beranjak dari kursi kesayanganku yang sudah mulai agak sedikit miring. Maklum saja, penghuninya bukanlah orang yang ‘anteng’ alias tenang ketika bekerja.
“Zhy . . . bos ada gak?”, tanya seorang teman kerjaku kepadaku. Yap, namaku adalah Zhakkida dan panggilan sehari-hari cukup Zhy. Orang-orang memanggil namaku dengan amat sangat singkat sehingga bagiku jadi terlalu singkat untuk sebuah nama panggilan karena hanya menggunakan huruf awalku saja, namun dibaca dalam bahasa Inggris yang awalnya adalah ‘Zet’ menjadi ‘Zhy’. Pasrah ajalah, masih nyangkut-nyangkut juga toh.
“Sepertinya tidak ada tuh, napa emangnya Mbak?”, jawabku balik tanya.
“Mau minta tanda tangan surat ni. Emangnya kemana si Bos?”, tanyanya lagi.
“Kurang tau juga ya Mbak. Tadi Zhy datang agak telat dan Bos udah ga’ ada di tempat. Coba tanya sama kawan lain Mbak”, jelasku.
“Oke deh, thank’s ya Zhy”, jawabnya
“Yup, Mbak”, balasku. Percakapan standar yang ala kadarnya.
Angin siang ini membawaku bersenandung tipis
Sambil menatap sinar mentari melalui cermin
Memantulkan cahayanya ke tubuhku
Manisnya, pikirku
Tak ku sadari itu hanya pantulan bayangan
Tak bisa ku jadikan teman
Kembali aku tersenyum tipis
“Lapar nya”, tiba-tiba aku teringat bahwa dari pagi belum ada sebiji nasi bahkan setetes air yang masuk ke kerongkonganku ini. Aku pun menuju kantin dan langsung mengambil gorengan yang disediakan di kantin tanpa memilih-milih atau basa-basi kepada pemiliki kantin. Setelah kira-kira dirasa cukup kenyang, aku pun membayarnya segera takut kelupaan. Satu lagi kebiasaan burukku yaitu pelupa. Bisa-bisa aku lupa bayar dan ngeloyor pergi seperti sebelumnya hehehehe
Tanpas ku sadari ada yang memperhatikanku dari kejauhan dan perlahan-lahan mulai menghampiriku dan berkata,
“Ma’af, Buk mau tanya. Ruangannya Buk Zhakkida dimana ya?”, tanyanya.
Heh? Lah yang di depan dia sapa? Oh, mungkin orang baru jadi kuma’afkan.
“Ya, saya sendiri. Ada apa ya Pak?” tanyaku dengan sesopan mungkin.
“Oh, ma’af Buk. Saya tidak tau kalau ini dengan Buk Zhakkida. Saya mau mengantarkan surat ini dari perusahaan kami yaitu PT.Piramida Textil. Ini contoh bahan dan model kain yang diminta oleh pimpinan ini. Katanya disuruh titipkan saja dengan ibuk yang benama Zhakkida.” Jelasnya panjang kali lebar kali tinggi. Untung gak pake rata-rata, maksimal dan minimal hehehehe
“Oh ya, terima kasih kalo begitu”. Jawabku dengam cukup singkat.
“Baik, kalau begitu saya permisi dulu”, ujarnya sambil beranjak pergi.
“Emangnya aku ibuk-ibuk apa? Emangnya aku udah setua itu apa? masa’ aku udah pantas dipanggil ‘Ibuk’ sih? Aku kan masih 23 tahun. Apa dia ‘gak tau bahwa panggilan itu merupakan hal yang paling sensitif bagi wanita? Dasar !”, kembali aku menggerutu sendiri. Krisis wanita karir, benar-benar melelahkan.
Kembali aku ke ruangan kerja ku. Posisiku tepat di sudut kantor yang dapat melihat keluar melalui jendela. Tanpa sadar aku melihat anak-anak yang seperti baru pulang sekolah dan melewati kantor ku. Terlintas fikiranku kembali ke masa-masa SMA ku dulu. Kejadian-kejadian yang tak dapat ku lupakan pun mengalir seakan ingin menampilkan sketsa kenangan yang tersimpan lekat di memoriku ini. Kembali mengingat saat-saat ketika aku belum merasakan bagaimana hidup mandiri dan mengatasi masalah dengan lebih dewasa tanpa bergantung pada orang tua. Aku hanya tau bahwa aku harus sekolah dan bertemu teman-teman hingga merasakan jatuh cinta. Hm . . . Masa-masa yang menyenangkan.
Kini, aku hanya jatuh cinta pada seperangkat laptopku. Entah kemana perginya teman-temanku, atau aku yang sebenarnya menarik diri dari mereka ya?. Mikir lagi, mikir lagi. . . Perasaan, dulu aku gak banyak pikiran seperti ini deh. Galau galau galau. Ternyata orang dewasa itu, sedikit-sedikit mikir, sedikit-sedikit mikir, kebanyakan mikir malah ketinggalan. Aku rindu kebebasanku dulu.
Di suatu sore ketika aku pulang dari kantor, entah kenapa timbul meinginan ku untuk melihat sekeliling dengan seksama. Subhanallah . . . Tak pernah ku sadari bahwa alam begitu pemurahnya. Langit begitu biru cerahnya, angin begitu sejuknya, udara begitu banyaknya sehingga bisa dihirup oleh berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar manusia yang hidup di setiap belahan dunia ini. Ah . . . Aku semakin terasa kerdil. Apa yang telah ku perbuat untuk dunia yang pemurah ini? Untuk Tuhan yang menciptakan semua ini? Hanya demi kebutuhan ciptan-Nya yang lain . . . Aku malu, aku malu pada paru-paru ini, malu pada tubuh ini, karena hanya menggunakan tanpa bersyukur sedikit pun. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah . . . Terima kasih atas semuanya. Subhaanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaa ha illallaah wallahu akbar.
Memantulkan cahayanya ke tubuhku
Manisnya, pikirku
Tak ku sadari itu hanya pantulan bayangan
Tak bisa ku jadikan teman
Kembali aku tersenyum tipis
“Lapar nya”, tiba-tiba aku teringat bahwa dari pagi belum ada sebiji nasi bahkan setetes air yang masuk ke kerongkonganku ini. Aku pun menuju kantin dan langsung mengambil gorengan yang disediakan di kantin tanpa memilih-milih atau basa-basi kepada pemiliki kantin. Setelah kira-kira dirasa cukup kenyang, aku pun membayarnya segera takut kelupaan. Satu lagi kebiasaan burukku yaitu pelupa. Bisa-bisa aku lupa bayar dan ngeloyor pergi seperti sebelumnya hehehehe
Tanpas ku sadari ada yang memperhatikanku dari kejauhan dan perlahan-lahan mulai menghampiriku dan berkata,
“Ma’af, Buk mau tanya. Ruangannya Buk Zhakkida dimana ya?”, tanyanya.
Heh? Lah yang di depan dia sapa? Oh, mungkin orang baru jadi kuma’afkan.
“Ya, saya sendiri. Ada apa ya Pak?” tanyaku dengan sesopan mungkin.
“Oh, ma’af Buk. Saya tidak tau kalau ini dengan Buk Zhakkida. Saya mau mengantarkan surat ini dari perusahaan kami yaitu PT.Piramida Textil. Ini contoh bahan dan model kain yang diminta oleh pimpinan ini. Katanya disuruh titipkan saja dengan ibuk yang benama Zhakkida.” Jelasnya panjang kali lebar kali tinggi. Untung gak pake rata-rata, maksimal dan minimal hehehehe
“Oh ya, terima kasih kalo begitu”. Jawabku dengam cukup singkat.
“Baik, kalau begitu saya permisi dulu”, ujarnya sambil beranjak pergi.
“Emangnya aku ibuk-ibuk apa? Emangnya aku udah setua itu apa? masa’ aku udah pantas dipanggil ‘Ibuk’ sih? Aku kan masih 23 tahun. Apa dia ‘gak tau bahwa panggilan itu merupakan hal yang paling sensitif bagi wanita? Dasar !”, kembali aku menggerutu sendiri. Krisis wanita karir, benar-benar melelahkan.
Kembali aku ke ruangan kerja ku. Posisiku tepat di sudut kantor yang dapat melihat keluar melalui jendela. Tanpa sadar aku melihat anak-anak yang seperti baru pulang sekolah dan melewati kantor ku. Terlintas fikiranku kembali ke masa-masa SMA ku dulu. Kejadian-kejadian yang tak dapat ku lupakan pun mengalir seakan ingin menampilkan sketsa kenangan yang tersimpan lekat di memoriku ini. Kembali mengingat saat-saat ketika aku belum merasakan bagaimana hidup mandiri dan mengatasi masalah dengan lebih dewasa tanpa bergantung pada orang tua. Aku hanya tau bahwa aku harus sekolah dan bertemu teman-teman hingga merasakan jatuh cinta. Hm . . . Masa-masa yang menyenangkan.
Kini, aku hanya jatuh cinta pada seperangkat laptopku. Entah kemana perginya teman-temanku, atau aku yang sebenarnya menarik diri dari mereka ya?. Mikir lagi, mikir lagi. . . Perasaan, dulu aku gak banyak pikiran seperti ini deh. Galau galau galau. Ternyata orang dewasa itu, sedikit-sedikit mikir, sedikit-sedikit mikir, kebanyakan mikir malah ketinggalan. Aku rindu kebebasanku dulu.
Di suatu sore ketika aku pulang dari kantor, entah kenapa timbul meinginan ku untuk melihat sekeliling dengan seksama. Subhanallah . . . Tak pernah ku sadari bahwa alam begitu pemurahnya. Langit begitu biru cerahnya, angin begitu sejuknya, udara begitu banyaknya sehingga bisa dihirup oleh berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar manusia yang hidup di setiap belahan dunia ini. Ah . . . Aku semakin terasa kerdil. Apa yang telah ku perbuat untuk dunia yang pemurah ini? Untuk Tuhan yang menciptakan semua ini? Hanya demi kebutuhan ciptan-Nya yang lain . . . Aku malu, aku malu pada paru-paru ini, malu pada tubuh ini, karena hanya menggunakan tanpa bersyukur sedikit pun. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah . . . Terima kasih atas semuanya. Subhaanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaa ha illallaah wallahu akbar.
Tanpa sadar, aku tak melihat kemana langkahku melangkah dan 'Brak'.
"Aduuuuuh . . . Ma'af mas, ma'af. Saya yang meleng" ucapku merasa bersalah
"Ah, gak papa buk. Saya juga tidak memperhatikan jalan dengan baik", jawabnya
"Loh, kamu khan yang tadi?" aku pun terkejut. Ternyata lelaki yang ku jumpai di kantor ku tadi
(Bersambung)
