Minggu, 24 Februari 2013

Cintaku (bagian 1)

 Goyangan angin menari menggelitik telingaku
 Salam malam dingin yang mesra
 Berusaha merayuku dengan hembusannya yang lembut membujuk
 Tapi hanya pinggir bibirku yang membalasnya
 Padahal remang t’lah beranjak dari bayanganku
 Semua karna fajar yang diam dan perlahan memuncak ini
 Kasih mengadu di bantal kamarnya
 Aku ? Aku hanya mampu tersenyum tipis seperti biasa


Sinar matahari pagi mencuri-curi untuk menerobos masuk ke kamarku, berusaha membangunkanku dari mimpi yang sering tak dapat ku ingat lagi ketika sadar. Mulai terdengar kesibukan lalu lalang mesin-mesin buatan manusia yang dijadikan alat transportasi kemana mereka pergi. Yah . . . Rumahku tepat berada di pinggir jalan yang ramai dilalui oleh manusia karena berada di pusat kota, walaupun hanya sebuah kota kecil. Jadi, semua kesibukan pagi di sekitar rumahku dapat terdengar jelas di telingaku dan tak juga sukses membangunkanku di pagi-pagi yang sebenarnya sangat indah ini.

Pagi ini seperti biasanya, hanya alarm handphone-ku yang selalu berhasil membangunkanku walau harus berbunyi berkali-kali.

“Ya ampuuun, udah jam segini lagi. Ah! Bakalan telat lagi ni. Aduuuuh!”,  aku hanya bisa menggerutu sendiri ketika menyadari bahwa aku terlambat bangun lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku pun segera menarik handuk yang tergantung di gantungan kamarku. Bergegas menuju kamar mandi, berusaha mandi secepat mungkin namun ketika kembali ke kamar, ku lirik jam dan tetap membutuhkan waktu selama 15 menit untuk hanya mandi saja.

“Ah . . . Lelet amat sih aku ini!”, pagi ini ku awali dengan menggerutui diri sendiri lagi dan lagi. Sungguh pagi yang menyedihkan hehehehe

Karena aku adalah seorang wanita, maka aku butuh untuk berdandan sebelum keluar rumah apalagi berangkat kerja. Waktu yang kubutuhkan untuk berdandan yaitu sekitar 15 menit juga. Jadi total waktu dari mandi dan berdandan yaitu 30 menit. Hm . . . Sifatku yang lelet ini selalu membuatku tidak sempat sarapan karena sudah amat sangat telat. Terpaksa sarapannya hanya di tempatku kerja, itu pun kalau aku ingat. Belum lagi jarak tempat kerjaku dari rumah yaitu 10 menit jika ku tempuh dengan berjalan kaki. Mau menggunakan kendaraan, aku tidak punya. Ya mau tak mau menggunakan karunia Allah yaitu kaki ini untuk menuju tempat kerja. Namun ada sisi positifnya, aku bisa bersilaturrahmi minimal menyapa orang-orang yang ku temui selama perjalanan ke tempat ku bekerja. Alhamdulillah . . . .

Sesampainya di tempat kerja, aku menebar senyuman seolah tak terjadi apa-apa. Padahal jelas-jelas aku terlambat. Bergegas menata meja kerja dan meletakkan peralatan-peralatan kerja agar lebih mudah dijangkau saat dibutuhkan.

It’s time to work. So, Let’s to hardwork”, dengan penuh semangat aku menghidupkan laptop kesayanganku yang tahan banting walau terus dihidupkan tanpa ada waktu istirahat, Itu dikarenakan kegilaanku pada pekerjaan terutama ketika mendesak. Ku ‘klik’ gambar srigala kuning yang mengitari dunia berwarna biru yaitu ‘Mozzila’ dan searching dan loading maka terbukalah halaman yang ku cari yaitu sebuah jejaring sosial yang sedang tren di masa kini. Segera ku masukkan ID ku dan ternyata aku bukannya kerja tapi malah chatting-an. Sungguh memalukan hehehehe

“Ternyata belum ada kabar terbaru.”, sedikit kecewa dan akhirnya membuka Microsoft Word untuk melakukan pekerjaan yang sebenar-benarnya pekerjaanku.

Tanpa terasa sudah hampir tengah hari dan aku belum beranjak dari kursi kesayanganku yang sudah mulai agak sedikit miring. Maklum saja, penghuninya bukanlah orang yang ‘anteng’ alias tenang ketika bekerja.

“Zhy . . . bos ada gak?”, tanya seorang teman kerjaku kepadaku. Yap, namaku adalah Zhakkida dan panggilan sehari-hari cukup Zhy. Orang-orang memanggil namaku dengan amat sangat singkat sehingga bagiku jadi terlalu singkat untuk sebuah nama panggilan karena hanya menggunakan huruf awalku saja, namun dibaca dalam bahasa Inggris yang awalnya adalah ‘Zet’ menjadi ‘Zhy’. Pasrah ajalah, masih nyangkut-nyangkut juga toh.

“Sepertinya tidak ada tuh, napa emangnya Mbak?”, jawabku balik tanya.

“Mau minta tanda tangan surat ni. Emangnya kemana si Bos?”, tanyanya lagi.

“Kurang tau juga ya Mbak. Tadi Zhy datang agak telat dan Bos udah ga’ ada di tempat. Coba tanya sama kawan lain Mbak”, jelasku.

“Oke deh, thank’s ya Zhy”, jawabnya

“Yup, Mbak”, balasku. Percakapan standar yang ala kadarnya.
 
Angin siang ini membawaku bersenandung tipis
Sambil menatap sinar mentari melalui cermin
Memantulkan cahayanya ke tubuhku
Manisnya, pikirku
Tak ku sadari itu hanya pantulan bayangan
Tak bisa ku jadikan teman
Kembali aku tersenyum tipis


“Lapar nya”, tiba-tiba aku teringat bahwa dari pagi belum ada sebiji nasi bahkan setetes air yang masuk ke kerongkonganku ini. Aku pun menuju kantin dan langsung mengambil gorengan yang disediakan di kantin tanpa memilih-milih atau basa-basi kepada pemiliki kantin. Setelah kira-kira dirasa cukup kenyang, aku pun membayarnya segera takut kelupaan. Satu lagi kebiasaan burukku yaitu pelupa. Bisa-bisa aku lupa bayar dan ngeloyor pergi seperti sebelumnya hehehehe

Tanpas ku sadari ada yang memperhatikanku dari kejauhan dan perlahan-lahan mulai menghampiriku dan berkata,

“Ma’af, Buk mau tanya. Ruangannya Buk Zhakkida dimana ya?”, tanyanya.

Heh? Lah yang di depan dia sapa? Oh, mungkin orang baru jadi kuma’afkan.

“Ya, saya sendiri. Ada apa ya Pak?” tanyaku dengan sesopan mungkin.

“Oh, ma’af Buk. Saya tidak tau kalau ini dengan Buk Zhakkida. Saya mau mengantarkan surat ini dari perusahaan kami yaitu PT.Piramida Textil. Ini contoh bahan dan model kain yang diminta oleh pimpinan ini. Katanya disuruh titipkan saja dengan ibuk yang benama Zhakkida.” Jelasnya panjang kali lebar kali tinggi. Untung gak pake rata-rata, maksimal dan minimal hehehehe

“Oh ya, terima kasih kalo begitu”. Jawabku dengam cukup singkat.

“Baik, kalau begitu saya permisi dulu”, ujarnya sambil beranjak pergi.

“Emangnya aku ibuk-ibuk apa? Emangnya aku udah setua itu apa? masa’ aku udah pantas dipanggil ‘Ibuk’ sih? Aku kan masih 23 tahun. Apa dia ‘gak tau bahwa panggilan itu merupakan hal yang paling sensitif bagi wanita? Dasar !”, kembali aku menggerutu sendiri. Krisis wanita karir, benar-benar melelahkan.

Kembali aku ke ruangan kerja ku. Posisiku tepat di sudut kantor yang dapat melihat keluar melalui jendela. Tanpa sadar aku melihat anak-anak yang seperti baru pulang sekolah dan melewati kantor ku. Terlintas fikiranku kembali ke masa-masa SMA ku dulu. Kejadian-kejadian yang tak dapat ku lupakan pun mengalir seakan ingin menampilkan sketsa kenangan yang tersimpan lekat di memoriku ini. Kembali mengingat saat-saat ketika aku belum merasakan bagaimana hidup mandiri dan mengatasi masalah dengan lebih dewasa tanpa bergantung pada orang tua. Aku hanya tau bahwa aku harus sekolah dan bertemu teman-teman hingga merasakan jatuh cinta. Hm . . . Masa-masa yang menyenangkan.

Kini, aku hanya jatuh cinta pada seperangkat laptopku. Entah kemana perginya teman-temanku, atau aku yang sebenarnya menarik diri dari mereka ya?. Mikir lagi, mikir lagi. . . Perasaan, dulu aku gak banyak pikiran seperti ini deh. Galau galau galau. Ternyata orang dewasa itu, sedikit-sedikit mikir, sedikit-sedikit mikir, kebanyakan mikir malah ketinggalan. Aku rindu kebebasanku dulu.

Di suatu sore ketika aku pulang dari kantor, entah kenapa timbul meinginan ku untuk melihat sekeliling dengan seksama. Subhanallah . . . Tak pernah ku sadari bahwa alam begitu pemurahnya. Langit begitu biru cerahnya, angin begitu sejuknya, udara begitu banyaknya sehingga bisa dihirup oleh berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar manusia yang hidup di setiap belahan dunia ini. Ah . . . Aku semakin terasa kerdil. Apa yang telah ku perbuat untuk dunia yang pemurah ini? Untuk Tuhan yang menciptakan semua ini? Hanya demi kebutuhan ciptan-Nya yang lain . . . Aku malu, aku malu pada paru-paru ini, malu pada tubuh ini, karena hanya menggunakan tanpa bersyukur sedikit pun. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah . . . Terima kasih atas semuanya. Subhaanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaa ha illallaah wallahu akbar.

Tanpa sadar, aku tak melihat kemana langkahku melangkah dan 'Brak'.

"Aduuuuuh . . . Ma'af mas, ma'af. Saya yang meleng" ucapku merasa bersalah

"Ah, gak papa buk. Saya juga tidak memperhatikan jalan dengan baik", jawabnya

"Loh, kamu khan yang tadi?" aku pun terkejut. Ternyata lelaki yang ku jumpai di kantor ku tadi 

(Bersambung)

Senin, 18 Februari 2013

Sebuah cerita, sebuah kisah



Keheningan petang memecah lamunan panjang. Hujan yang berjatuhan bagai harapan yang terhempas karena terlalu tingginya impian. Angin pun semakin menambah keterpurukan dengan dinginnya yang tak tau ampun. Raga ini mulai terkulai dengan hanya dapat menatap. Yah . . . Hanya menatap seorang gadis manis yang duduk dengan malu-malu di ujung halte di tempatku yang juga sedang berteduh. Mungkin usianya baru menginjak sekitar 10 tahun. Kalau di usia sekolah, seharusnya sudah kelas 5 Sekolah Dasar. Tapi, jika dilihat dari penampilannya petang itu, ku rasa dia bukanlah salah satu dari beberapa siswa yang berjejer di sebelahku. Dia tidak menggunakan seragam sekolah sama sekali. Bahkan pakaiannya terlihat sederhana. Dengan  matanya yang sayu, tapi di dalamnya seperti menyiratkan suatu harapan yang dinanti. Entahlah, perhatianku pun segera teralih dikala bus tujuanku telah berhenti di hadapanku.

Pagi ini, aku melakukan aktivitas ku seperti biasa. Ya, aku hanya seorang penulis cerita lepas, jadi hari ini ku mulai dengan mencari tempat yang mampu membuatku nyaman untuk mulai menulis. Kegiatanku hanya mencari imajinasi dan inspirasi yang cocok untuk ku angkat menjadi sebuah cerita. Tak begitu banyak koran atau pun majalah yang memuatnya. Bagiku, menulis bukanlah suatu cara untuk mencari penghasilan melainkan untuk berbagi cerita atas apa yang telah aku saksikan. Agar semua yang membaca, merasakan apa yang telah aku rasakan terhadap suatu keadaan.

Aku memilih sebuah taman yang ku rasa mampu membuatku merasa nyaman. Diteduhi oleh pohon akasia tua yang membawa angin sejuk. Aku duduk sambil meletakkan laptop ku di sebuah bangku taman terbuat dari kayu yang kurasa masih kuat, berusaha mencari sesuatu yang menarik. Namun, mungkin hari itu bukan hari keberuntunganku. Setelah beberapa jam aku menanti, tak juga kutemukan ide yang bagus untuk ku jadikan cerita. Tiba-tiba . . . .

“Kak . . . Mau beli kue gak, kak? Kuenya masih baru loh, masih anget. Cocok untuk sarapan dan yang penting enak banget, kak”, seorang gadis kecil menghampiriku sambil menjajakan roti yang ia tawarkan kepadaku.

Sekilas, aku seperti pernah melihat gadis ini. Tapi dimana ya? Ah, sudahlah. Kebetulan aku juga belum sarapan. Kelihatannya roti ini juga menggiurkan.

“Berapa satunya ini, dek?”, tanyaku.

“Seribu aja kak . . . Mau yang isinya rasa apa kak?”, tanyanya lagi.

“Adanya rasa apa aja?”, sambungku.

“Ada isi srikaya, kacang hijau, kelapa, dan coklat, kak. Kakak mau yang mana?” jelasnya.

“Emmmm . . . Coklat satu, srikaya satu. Jadi semuanya dua ribu ya”, jawabku.

“Nih kak. Makasih ya kak . . . Oya, kakak ngapain disini? Kok sendirian aja? Emangnya kakak nggak kerja?”, tanyanya polos sambil memberikan roti kepadaku.

“Ini kakak lagi kerja. Kamu siapa namanya? Nama kakak, Syuhaiba. Panggil saja Kak Syu. Kok enggak sekolah?”, jawabku sambil memakan roti yang tadi kubeli.

“Namaku Rika, kak. Aku enggak sekolah. Mana ada uang kak. Masuk sekolah aja mahal. Mamakku mana sanggup bayarnya kak. Aku cuma ikut belajar dengan kakak-kakak yang mengajar di dekat rumahku. Itu pun setiap sore hari aja kak. Jadi paginya aku bisa kerja tolong mamak. Ini kue buatan mamak loh, kak. Enak enggak?”, terangnya padaku.

“Enak. Oh ya, kamu udah sarapan? Kalo belum, nih ambil satu punya kakak”, tawarku.

“Belum sih kak, soalnya kalo rotinya dimakan sendiri, nanti malah rugi. Gak usah repot-repot kak. Aku udah biasa gak sarapan kok. Jadi tenang aja, udah tahan lapar hehehe”, jawabnya sambil tertawa ringan.

“Memangnya orang tua Rika kerjanya apa?”, tanyaku lagi.

“Cuma membantu kebersihan kak, alias petugas kebersihan di taman ini. Tapi Cuma mamak Rika aja kak. Bapak Rika udah lama pergi, entah kemana. Kata mamak, bapak pergi cari kerja, bapak pulang kalo nanti uangnya udah banyak kak. Sampe sekarang bapak gak pernah pulang, mungkin karena bapak belum banyak uang kali tuh kak, hehehe” jawabnya dengan wajah yang tek menyiratkan rasa rendah diri sama sekali.

“Oh, Rika punya adik atau kakak?”, sambungku lagi.

“Punya, 3 orang. Dua perempuan dan satu laki-laki. Tapi yang laki-laki masih umur dua tahun kak, namanya Raka. Kalo yang di bawah Rika umurnya baru berapa ya? Em . . . 7 tahun kak, namanya Ria. Kalau yang di bawahnya lagi umurnya 4 tahun kak, namanya Riri. Adik Rika masih pada kecil-kecil jadi baru Rika sama Ria yang bisa bantu mamak jualan roti-roti ini. Tapi seru kak, Rika jadi banyak tau tempat-tempat yang jauh dari rumah Rika kak, sekalian jalan-jalan hehehehe”, jelasnya panjang lebar. Seakan-akan dia ingin menceritakan kehidupannya yang sungguh menyenangkan.

Melihat tawanya yang ringan, seakan hidup ini dapat dengan mudah dia lewati. Tak ada beban yang membuat senyumnya berhenti mengembang. Tak ada kesusahan yang membuat surut semangat di hatinya yang polos. Sedangkan aku, aku hanya selalu mengeluh pada hidup. Ah . . . Aku sungguh malu pada gadis ini, pada senyumnya yang tulus.

Hari ini, aku memperoleh teman baru walau ide cerita baru tak kunjung menyapaku. Mendengar cerita gadis itu membuatku mulai melihat kehidupanku sendiri. Rasanya, aku lebih beruntung daripada dirinya. Walau hidupku sederhana, tapi aku orang tuaku masih mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya, bahkan hingga lulus perguruan tinggi. Sedangkan dia, tingkatan dasar pun dia tak ikuti. Bahkan di usia yang seharusnya ia sekolah, justru malah ia membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Ya Allah . . . Ampuni hamba yang masih berkeluh kesah terhadap rezeki yang telah Engkau limpahkan . . . Terima kasih atas semuanya ya Allah . . . . Aku pun larut dalam isak mengharap pengampunan dari-Nya. Gadis ini mampu membuatku kembali ingat atas rezeki-Nya. Terima kasih gadis kecilku . . . .

Esok harinya, aku kembali ke tempat itu, berharap dapat bertemu kembali dengan gadis manis si penjual roti. Benar saja, seperti biasa dia menjajakan rotinya kepada pengunjung taman tersebut. Ketika melihatku duduk di bangku taman kemarin, dia pun tersenyum seraya menghampiriku dengan gembira. Seakan-akan dia sangat menunggu kedatanganku kembali. Ya Allah . . . Perasaan apa ini? Kenapa ada sesuatu yang sejuk mengalir di hatiku ketika gadis itu tersenyum manis menghampiriku. Seperti sebuah air yang telah lama menunggu untuk diteguk demi melepaskan dahaga orang yang kehausan. Seperti pucuk yang menanti kedatangan orang untuk menjadikannya tempat berteduh.

“Kakak . . . . Akhirnya kakak datang lagi . . . . Kakak mau beli rotiku lagi ya? Pasti kakak ketagihan dengan roti buatan mamakku hehehehe”, sapanya riang.

“Iya, rotinya Rika enak. Kakak juga senang ketemu Rika hari ini. Kakak beli roti rasa apa ya hari ini? Em . . . Kalau Rika sukanya rasa apa?”, tanyaku padanya.

“Kalau Rika sukanya rasa coklat kak. Gimana kalau kakak coba rasa kelapa dan kacang hijau? Itu enak juga loh kak”, sarannya.

“Boleh juga, nah kakak beli empat ya. Yang duanya untuk kakak dan duanya lagi untuk Rika. Pas uangnya kan?”, kataku.

“Wah, terima kasih ya kak. Kakak ini baik sekali sama Rika. Oke deh, Rika jualan ke tempat lain dulu ya kak. Dah kakak . . .”, jawabnya sambil berlalu.

“Iya Rika, hati-hati ya  . . . .”, balasku.

Gadis ini benar-benar mampu meninggalkan bekas yang membuatku selalu teringat dirinya dan keadaan keluarganya. Ah . . . Sampai kini aku belum juga menemukan cerita yang menarik untuk cerpenku ini. Serasa pikiran ini sudah dipenuhi tentang kehidupan gadis kecil itu. Dia tetap ceria meski ia harus kehilangan masa-masa bermainnya karena harus menolong ibunya. Bahkan, dia mungkin lebih dewasa daripada aku. Dia dewasa karena kehidupannya yang menuntutnya untuk dewasa. Ya Allah . . . Ciptaan-Mu sungguh indah.

Eh! Tiba-tiba aku teringat. Kehidupan gadis kecil ini, bisa dijadikan sebuah cerita yang mengharukan dan mudah-mudahan dapat menggerakkan hati pembacanya. Baiklah, besok aku akan kemari lagi. Mudah-mudahan gadis itu mau berbagi ceritanya.

Esok harinya, aku kembali menanti gadis itu di taman. Namun dia tak terlihat lagi. Entah apa yang mungkin menipanya, tapi aku berharap dia baik-baik saja.