Senin, 18 Februari 2013

Sebuah cerita, sebuah kisah



Keheningan petang memecah lamunan panjang. Hujan yang berjatuhan bagai harapan yang terhempas karena terlalu tingginya impian. Angin pun semakin menambah keterpurukan dengan dinginnya yang tak tau ampun. Raga ini mulai terkulai dengan hanya dapat menatap. Yah . . . Hanya menatap seorang gadis manis yang duduk dengan malu-malu di ujung halte di tempatku yang juga sedang berteduh. Mungkin usianya baru menginjak sekitar 10 tahun. Kalau di usia sekolah, seharusnya sudah kelas 5 Sekolah Dasar. Tapi, jika dilihat dari penampilannya petang itu, ku rasa dia bukanlah salah satu dari beberapa siswa yang berjejer di sebelahku. Dia tidak menggunakan seragam sekolah sama sekali. Bahkan pakaiannya terlihat sederhana. Dengan  matanya yang sayu, tapi di dalamnya seperti menyiratkan suatu harapan yang dinanti. Entahlah, perhatianku pun segera teralih dikala bus tujuanku telah berhenti di hadapanku.

Pagi ini, aku melakukan aktivitas ku seperti biasa. Ya, aku hanya seorang penulis cerita lepas, jadi hari ini ku mulai dengan mencari tempat yang mampu membuatku nyaman untuk mulai menulis. Kegiatanku hanya mencari imajinasi dan inspirasi yang cocok untuk ku angkat menjadi sebuah cerita. Tak begitu banyak koran atau pun majalah yang memuatnya. Bagiku, menulis bukanlah suatu cara untuk mencari penghasilan melainkan untuk berbagi cerita atas apa yang telah aku saksikan. Agar semua yang membaca, merasakan apa yang telah aku rasakan terhadap suatu keadaan.

Aku memilih sebuah taman yang ku rasa mampu membuatku merasa nyaman. Diteduhi oleh pohon akasia tua yang membawa angin sejuk. Aku duduk sambil meletakkan laptop ku di sebuah bangku taman terbuat dari kayu yang kurasa masih kuat, berusaha mencari sesuatu yang menarik. Namun, mungkin hari itu bukan hari keberuntunganku. Setelah beberapa jam aku menanti, tak juga kutemukan ide yang bagus untuk ku jadikan cerita. Tiba-tiba . . . .

“Kak . . . Mau beli kue gak, kak? Kuenya masih baru loh, masih anget. Cocok untuk sarapan dan yang penting enak banget, kak”, seorang gadis kecil menghampiriku sambil menjajakan roti yang ia tawarkan kepadaku.

Sekilas, aku seperti pernah melihat gadis ini. Tapi dimana ya? Ah, sudahlah. Kebetulan aku juga belum sarapan. Kelihatannya roti ini juga menggiurkan.

“Berapa satunya ini, dek?”, tanyaku.

“Seribu aja kak . . . Mau yang isinya rasa apa kak?”, tanyanya lagi.

“Adanya rasa apa aja?”, sambungku.

“Ada isi srikaya, kacang hijau, kelapa, dan coklat, kak. Kakak mau yang mana?” jelasnya.

“Emmmm . . . Coklat satu, srikaya satu. Jadi semuanya dua ribu ya”, jawabku.

“Nih kak. Makasih ya kak . . . Oya, kakak ngapain disini? Kok sendirian aja? Emangnya kakak nggak kerja?”, tanyanya polos sambil memberikan roti kepadaku.

“Ini kakak lagi kerja. Kamu siapa namanya? Nama kakak, Syuhaiba. Panggil saja Kak Syu. Kok enggak sekolah?”, jawabku sambil memakan roti yang tadi kubeli.

“Namaku Rika, kak. Aku enggak sekolah. Mana ada uang kak. Masuk sekolah aja mahal. Mamakku mana sanggup bayarnya kak. Aku cuma ikut belajar dengan kakak-kakak yang mengajar di dekat rumahku. Itu pun setiap sore hari aja kak. Jadi paginya aku bisa kerja tolong mamak. Ini kue buatan mamak loh, kak. Enak enggak?”, terangnya padaku.

“Enak. Oh ya, kamu udah sarapan? Kalo belum, nih ambil satu punya kakak”, tawarku.

“Belum sih kak, soalnya kalo rotinya dimakan sendiri, nanti malah rugi. Gak usah repot-repot kak. Aku udah biasa gak sarapan kok. Jadi tenang aja, udah tahan lapar hehehe”, jawabnya sambil tertawa ringan.

“Memangnya orang tua Rika kerjanya apa?”, tanyaku lagi.

“Cuma membantu kebersihan kak, alias petugas kebersihan di taman ini. Tapi Cuma mamak Rika aja kak. Bapak Rika udah lama pergi, entah kemana. Kata mamak, bapak pergi cari kerja, bapak pulang kalo nanti uangnya udah banyak kak. Sampe sekarang bapak gak pernah pulang, mungkin karena bapak belum banyak uang kali tuh kak, hehehe” jawabnya dengan wajah yang tek menyiratkan rasa rendah diri sama sekali.

“Oh, Rika punya adik atau kakak?”, sambungku lagi.

“Punya, 3 orang. Dua perempuan dan satu laki-laki. Tapi yang laki-laki masih umur dua tahun kak, namanya Raka. Kalo yang di bawah Rika umurnya baru berapa ya? Em . . . 7 tahun kak, namanya Ria. Kalau yang di bawahnya lagi umurnya 4 tahun kak, namanya Riri. Adik Rika masih pada kecil-kecil jadi baru Rika sama Ria yang bisa bantu mamak jualan roti-roti ini. Tapi seru kak, Rika jadi banyak tau tempat-tempat yang jauh dari rumah Rika kak, sekalian jalan-jalan hehehehe”, jelasnya panjang lebar. Seakan-akan dia ingin menceritakan kehidupannya yang sungguh menyenangkan.

Melihat tawanya yang ringan, seakan hidup ini dapat dengan mudah dia lewati. Tak ada beban yang membuat senyumnya berhenti mengembang. Tak ada kesusahan yang membuat surut semangat di hatinya yang polos. Sedangkan aku, aku hanya selalu mengeluh pada hidup. Ah . . . Aku sungguh malu pada gadis ini, pada senyumnya yang tulus.

Hari ini, aku memperoleh teman baru walau ide cerita baru tak kunjung menyapaku. Mendengar cerita gadis itu membuatku mulai melihat kehidupanku sendiri. Rasanya, aku lebih beruntung daripada dirinya. Walau hidupku sederhana, tapi aku orang tuaku masih mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya, bahkan hingga lulus perguruan tinggi. Sedangkan dia, tingkatan dasar pun dia tak ikuti. Bahkan di usia yang seharusnya ia sekolah, justru malah ia membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Ya Allah . . . Ampuni hamba yang masih berkeluh kesah terhadap rezeki yang telah Engkau limpahkan . . . Terima kasih atas semuanya ya Allah . . . . Aku pun larut dalam isak mengharap pengampunan dari-Nya. Gadis ini mampu membuatku kembali ingat atas rezeki-Nya. Terima kasih gadis kecilku . . . .

Esok harinya, aku kembali ke tempat itu, berharap dapat bertemu kembali dengan gadis manis si penjual roti. Benar saja, seperti biasa dia menjajakan rotinya kepada pengunjung taman tersebut. Ketika melihatku duduk di bangku taman kemarin, dia pun tersenyum seraya menghampiriku dengan gembira. Seakan-akan dia sangat menunggu kedatanganku kembali. Ya Allah . . . Perasaan apa ini? Kenapa ada sesuatu yang sejuk mengalir di hatiku ketika gadis itu tersenyum manis menghampiriku. Seperti sebuah air yang telah lama menunggu untuk diteguk demi melepaskan dahaga orang yang kehausan. Seperti pucuk yang menanti kedatangan orang untuk menjadikannya tempat berteduh.

“Kakak . . . . Akhirnya kakak datang lagi . . . . Kakak mau beli rotiku lagi ya? Pasti kakak ketagihan dengan roti buatan mamakku hehehehe”, sapanya riang.

“Iya, rotinya Rika enak. Kakak juga senang ketemu Rika hari ini. Kakak beli roti rasa apa ya hari ini? Em . . . Kalau Rika sukanya rasa apa?”, tanyaku padanya.

“Kalau Rika sukanya rasa coklat kak. Gimana kalau kakak coba rasa kelapa dan kacang hijau? Itu enak juga loh kak”, sarannya.

“Boleh juga, nah kakak beli empat ya. Yang duanya untuk kakak dan duanya lagi untuk Rika. Pas uangnya kan?”, kataku.

“Wah, terima kasih ya kak. Kakak ini baik sekali sama Rika. Oke deh, Rika jualan ke tempat lain dulu ya kak. Dah kakak . . .”, jawabnya sambil berlalu.

“Iya Rika, hati-hati ya  . . . .”, balasku.

Gadis ini benar-benar mampu meninggalkan bekas yang membuatku selalu teringat dirinya dan keadaan keluarganya. Ah . . . Sampai kini aku belum juga menemukan cerita yang menarik untuk cerpenku ini. Serasa pikiran ini sudah dipenuhi tentang kehidupan gadis kecil itu. Dia tetap ceria meski ia harus kehilangan masa-masa bermainnya karena harus menolong ibunya. Bahkan, dia mungkin lebih dewasa daripada aku. Dia dewasa karena kehidupannya yang menuntutnya untuk dewasa. Ya Allah . . . Ciptaan-Mu sungguh indah.

Eh! Tiba-tiba aku teringat. Kehidupan gadis kecil ini, bisa dijadikan sebuah cerita yang mengharukan dan mudah-mudahan dapat menggerakkan hati pembacanya. Baiklah, besok aku akan kemari lagi. Mudah-mudahan gadis itu mau berbagi ceritanya.

Esok harinya, aku kembali menanti gadis itu di taman. Namun dia tak terlihat lagi. Entah apa yang mungkin menipanya, tapi aku berharap dia baik-baik saja.

1 komentar: