Gambar : Google
Seperti berjalan di karang yang bergerigi tajam. Aku tak mampu berpijak, dimana pun ku langkahkan dan
ku jejakkan kaki ini. Rasanya sangat melelahkan mendengar cerita ini, ah
bukan, menjalani cerita hidupku ini.
Aku hanya gadis yang biasa-biasa saja, terlalu biasa. Aku sendiri tak merasa ada yang istimewa. Entah
menurut orang-orang yang hidup di sekitarku. Tapi yang jelas, aku selalu
berusaha untuk hidup sebaik yang aku bisa. Belakangan ini, ada yang mulai aneh.
Aku mulai merasa kesusahan dalam mengeja. Kata-kata yang sebenarnya sangat
biasa terucap dan tertulis, terasa asing dan harus memeriksa perhurufnya. Aneh
kan?! Mungkin juga tidak ....
Sapaan akrab di kehidupanku sehari-hari adalah Dhygta. Sedangkan nama lengkapku yaitu Azzahrauddhygta. Artinya? Kurang tau juga ya .... Aku masih merupakan siswi di salah satu sekolah lanjutan atas di daerah tempat aku tinggal. Prestasiku biasa-biasa saja, begitu juga dengan keadaan keluargaku (dari awal aku memang anak yang biasa-biasa saja).
“ Dhyg, ulangan kemaren kamu dapat berapa?” tanya salah seorang sahabtku, Wika.
“Anjlok ni”, jawabku singkat.
“Loh, kok bisa? Biasanya minimal kamu dapat nilai 75. Gak sempat belajar ya?”, tanyanya lagi.
“Belajar kok, coba lihat ni. Aku bayak salah di nulis huru. Banyak yang ketinggalan dan terbalik. Ya di salahinlah sama gurunya”, terangku.
“Makanya, lain kali yang teliti dong. Jangan asal cepat siap aja, oke?”
“Okelah kalo begitu hahahaha”, jawabku sambil bercanda.
“Anjlok ni”, jawabku singkat.
“Loh, kok bisa? Biasanya minimal kamu dapat nilai 75. Gak sempat belajar ya?”, tanyanya lagi.
“Belajar kok, coba lihat ni. Aku bayak salah di nulis huru. Banyak yang ketinggalan dan terbalik. Ya di salahinlah sama gurunya”, terangku.
“Makanya, lain kali yang teliti dong. Jangan asal cepat siap aja, oke?”
“Okelah kalo begitu hahahaha”, jawabku sambil bercanda.
Kesulitan membaca dan menulis ini hanya terasa akhir-akhir ini saja. Ini benar-benar sangat mengganggu kegiatan belajarku. Aku jadi semakin sulit mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Bagaimana bisa aku mengerjakannya jika membacanya saja aku sudah kesulitan, bagaimana mungkin aku bisa menuliskannya dengan baik?. Hingga kini, tidak ada yang mengetahui keanehan ini, karena mungkin ini biasa terjadi jika sedang mengalami stres atau kelelahan.
Hari ujian semester ganjil pun tiba. Aku semakin stres karena aku tidak juga kunjung mampu membaca dan menulis dengan benar. Kemampuan membaca dan menulisku justru semakin menurun. Aku tidak bisa belajar sama sekali. Semakin banyak huruf-huruf yang tidak aku kenali dan aku tidak tahu bagaimana membacanya. Ya Allah .... Kenapa ini? Aku diam saja hingga semua keluargaku mengetahuinya ketika penerimaan rapor. Nilaiku sama sekali turun drastis. Orang tuaku heran dan memarahiku habis-habisan. Mereka pikir, aku kebanyakan bermain sehingga waktu bermainku kini semakin dibatasi.
“Mulai hari ini, kamu hanya boleh menonton TV jam 7 sampai jam 8 malam. Ingat, ibu tidak mau nilai kamu rendah seperti ini lagi. Ini sudah keterlaluan! Ingat Dhygta?!”, kata ibuku
“Iya, bu”, jawabku lesu.
“Iya, bu”, jawabku lesu.
Hari demi hari aku lewati dengan berat, karena aku dibiarkan mengatasi masalah ini sendiri saja, tanpa bantuan orang tuaku, tanpa keluargaku. Menyedihkan bukan?!. Nilaiku tidak kunjung membaik, kesulitanku tidak kunjung membaik juga. Semakin membuatku stres, stres, dan stres. Bisa anda bayangkan bagaimana rasanya jika kondisi anak yang seharusnya menikmati masa remajanya justru merasa stres dengan kesulitan yang dialaminya. Itulah yang aku alami.
Ujian semester genap pun siap menanti. Nilaiku tetap di bawah rata-rata sehingga aku tidak naik kelas. Kejadian ini pun berlangsung hingga 2 tahun dan aku tetap duduk di bangku kelas X. Akhirnya orang tuaku pun memeriksakanku ke psikiater. Awalnya aku tidak mau, karena aku tidak gila. Tapi apalah daya seorang anak dengan orang tuanya. Akhirnya aku pun pasrah di bawa ke salah seorang psikiater.
Setelah melewati segala macam proses, aku tinggal menunggu hasilnya seminggu kemudian. Lalu, seminggu setelah itu aku dan orang tua ke tempat psikiater itu lagi, katanya aku terkena penyakit Dislexia.
“Dislexia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Penyebab dari penyakit ini secara umum bisa jadi dari genetika, namun penyebab lain yang tidak umum adalah cedera pada kepala atau trauma. Beberapa anak Dislexia ternyata memproses informasi menggunakan area yang berbeda pada otak dibanding anak-anak tanpa kesulitan belajar. Walaupun begitu, ini bukan merupakan karakteristik pada semua anak Dislexia. Beberapa tipe Dislexia bisa menunjukkan perbaikan sejalan bertambahnya usia anak. Gejalanya adalah :
- Kesulitan mengasosiasikan (menghubungkan arti) suatu huruf dengan bunyinya
- Terbalik dengan huruf (dia jadi bia) atau kata (tik jadi kit)
- Kesulitan membaca kata tunggal
- Kesulitan mengeja kata tunggal
- Kesulitan mencatat huruf/kata dari papan tulis atau buku
- Kesulitan mengerti apa yang mereka dengar (auditory)
- Kesulitan mengatur tugas, material, dan waktu
- Kesulitan mengingat isi materi baru dan materi sejenisnya
- Kesulitan dengan tugas menulis
- Kesulitan pada kemampuan motorik halus (misalnya memegang alat tulis, mengancing baju)
- Tidak terkoordinasi
- Masalah perilaku dan/atau tidak suka membaca”,terang dokter dengan panjang lebar.
Ya Allah ... Kenapa lagi ini? Ada ada denganku? Ternyata aku mengidap penyakit Dislexia. Bagaimana ini? Aku meratapi nasibku yang menyedihkan. Aku semakin rapuh. Aku merasa tiada berguna lagi untuk hidup. Tidak ada yang bisa aku kerjakan lagi. Aku seperti anak yang keterbelakangan mental. Aku pasti dijauhi oleh prang banyak. Aku tak sanggup ya Allah .... Ya Allah .... Ampuni hamba-Mu yang lemah ini ya Allah ....
Semenjak itu, aku tidak lagi ikut sekolah seperti biasanya. Aku di rawat jalan oleh psikiater yang mendiagnosaku. Aku hanya beraktivitas di dalam rumah saja. Hingga pada suatu hari, aku melihat di Televisi tentang berita yang membahas penyakit Dislexia. Ternyata banyak orang terkenal yang pernah terkena penyakit ini dan kemudian dapat disembuhkan, antara lain Albert Einstein, Tom Cruise, Bella Thorne, Orlando Bloom, Whoopi Goldberg, Lee Kuan Yew dan Vanessa Amorosi. Mereka justru tetap sukses.
Aku pun semakin giat meminta tolong kepada orang tua ku untuk mencari informasi tentang bagaimana mengatasi penyakit Dislexia. Berdasarkan info yang diperoleh, maka cara mengatasinya yaitu :
- Memahami Keadaan Anak. Pahami mereka. Sebaiknya kita juga tidak membandingkan mereka dengan anak lainnya yang lancar membaca. Jangan memberikan latihan-latihan yang berat, seperti menulis kalimat yang panjang atau lainnya. Mulai saja dari latihan menulis yang pendek dan kata-kata yang disukai.
- Menulis dengan Media Lain. Anak yang mengalami disleksia, bukan berarti ia tidak pintar. Maka, tidak ada salahnya jika kita memberinya kesempatan untuk menulis di media lain seperti laptop, komputer, ataupun stiker yang berbentuk huruf. Anak akan lebih tertarik.
- Membangun Rasa Percaya Diri pada Anak. Jangan abaikan pujian. Pujilah dia setelah berhasil menuliskan kata dengan benar. Hal ini akan membangkitkan semangatnya untuk giat berlatih.
- Merangsang Otak Anak dalam Membaca. Untuk merangsang otak anak dalam membaca dan mendekatkan pada kesenangan membaca, kita dapat membacakannya dongeng sebelum tidur, mengajak anak ke toko buku, dan lain sebagainya.
Alhamdulillah, dengan bantuan Allah, orang tua, teman dan psikiater ku, aku mulai berangsur dapat membaca dan menulis kembali. Sungguh kuasa yang tiada ternilai.Ampuni hamba-Mu yang sempat putus asa. Padahal Allah tidak akan memberi cobaan pada kaum-Nya diluar kemampuan kaum-Nya tersebut. Terima kasih semuanya .....
**Tamat**
**Tamat**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar